Pace Kalo Ko Malu Jualan berarti ko Susa Dapat Uang Foto Copy Nanti
Foto ini saya ambil untuk teringat gaya saya waktu saya abang koran selama dua tahun di Pasar Baru Sentani antara 2013-2014.
Di dalam text ini, saya hanya mau ceritakan tentang pengalaman apa yang saya dapat waktu saya jadi abang koran. Lebih specific yang saya akan tulis yaitu perasaan apa yang dulu saya rasakan, pengalaman buruk apa pernah saya hadapi dan akan jelaskan pengalaman apa yang saya dapat yang bermanfaat bagi saya.
Halo kam. sebelum jadi abang koran, waktu itu saya malunya itu minta ampun punya untuk jual koran atau usaha apa saja. Dulu waktu itu saya rasa ketakutan banyak seperti takut dapat tertawa dari orang, takut bicara dengan orang-orang, takut berbicara bahasa indonesia dengan kaki kepala atau salah-salah.
Walaupun perasaan seperti itu, di sini mulai saya punya cerita. Pertama saya dengar jual itu uang ada-ada maka saya ambil koran di agen. Tetapi, saya dapat tolak karena agent berita melihat saya anak baru dan pasti dia yakin bahwa saya waktu itu tidak punya tempat untuk jual koran. Tetapi waktu itu berita keluar sedikit tidak menarik. Jadi, dia kasih saya 10 koran.
Kam tebak apa yang terjadi di tempat jual? Saya dapat marah dari orang yang pernah jual koran disitu dan dia kasih tau saya dia tidak malu melihat saya jual koran di tempat itu. Saya takut karena orang marah-marah tempat itu. Waktu ambil koran saya hampir tidak dapat koran lalu di tempat jual juga orang marah-marah. Saya hampir menyerah and hampir buang koran yang saya ambil waktu itu. Tetapi, saya simpan saja besok hari untungnya mengalami situasi yang beda. Koran keluar waktu itu juga sedikit menarik maka laku cepat jadi semua nya tidak mudah marah baku sama lain untuk merebut tempat.
Koran pertama ambil 10 koran, tapi saya hanya jual empat saja dan 6 masih tertinggal. Jadi, besok pagi saya pergi ganti yang baru. Agen koran hampir marah saya lagi tapi saya bilang dia daripada kasi 6 koran biar kasi saya 4 biar dua koran tak usah ganti. Saya ambil koran hari yang kedua dan pergi ke Pasar Baru Sentani. Saya takut abang koran yang di tempat jual itu, tapi untungnya sa pu kaka. Maka, dengan perasaan dia bilang saya harus tidak boleh jaul sampai dia punya koran habis. Saya terima apa yang kamu perintah saya, saya jawab. Hari-kehari dan lama-kelamaan. Kita dua jual koran sama-sama. Setelah satu dua bulan lewat saya yang kuasa di Pasar Baru Sentani sampai selama dua tahun. Orang-orang waktu kebanyakan saya kenali mereka semua, ibu yang jualan pinang ka, sagu dan ikan bakar ka, penjual tagihan sajur ka, abang taxi jurusan Awai-Pasar Baru ka, sopir taxi ara Genyem, Nimboran, Doyo Sabron semua. Bhakan saya memperkenal diri dengan Mas dan Mba-mba yang jual pakaian dan berdagang di sekitar pasar itu. Saya mendekati mereka dengan cewa koran sementara hanya untuk 5 ribu rupiah. Hey kam, mace-mace dari Sentani waktu itu panggil saya pace koran. Karena terlalu kenal dengan mereka kakak satu pernah kasi saya sagu. Kalau saya beli sagu yang dia taru berarti dia tambah satu untuk free.
Memori dari Pasar Sentani memang terlalu banyak. Tetapi, singkat begitu saja dulu. Kemudian, saya punya cerita tentang jadi abang koran itu bukan saya punya fokus utama. Waktu itu posisi saya sebagai mahasiswa STIPER di Kemiri Sentani, Jurusan Peternakan. Kegiatan jual koran itu hanya kegiatan rutinitas pada pagi hari sekitar jam 6 pagi sampai jam 9 pagi. Saya gunakan waktu flexible sesuai dengan saya punya jadwal kelas, jam kelas berarti saya titip koran sama orang di tempat jual saya lalu saya pergi kuliah. Selama itu, uang untuk uang foto copy, uang untuk beli gorengan dan uang beli pulsa memang ada-ada saja karena penghasilan dari jual Koran dan juga dapat dari keluarga yang saya ketemu di Pasar Sentani situ. Karena saya ada uang terus, jadi waktu itu saya jarang minta uang sama saya punya orang tua. Saya minta hanya waktu butuh bantuan yang lebih besar seperti minta uang bajar SPP.
Banyak manfaat dan pengalaman yang saya dapat saat saya jual koran. Dari situlah saya rasa yang beda. Dulu rasa takut itu su hilang dan tergantikan dengan keberanian, dapat berkat banyak. Bikin teman-teman banyak dari berbagai tempat dari Papua daerah pantai sampai gunung dan teman-teman pendatang.
Bukan hanya itu saja, tapi lebih penting lagi kalau sebagai mahasiswa lalu jadi abang koran berarti dengan otomatis baca-baca berita setiap hari. Saya dapat informasi menarik banyak, pengetahuan banyak dengan kata lain Ilmu. Sebagai tambahan dari itu, jadi abang koran berarti melatih cara membaca juga dgn berbagai macam cara skimming dan scanning atau pun baca semua text jikalau berita itu sangat menarik. Pengalaman waktu itu, saya diwajibkan baca judul koran cepat-cepat sebelum pembeli tanya berita baru tentang apa kepada saya karena kalau saya tidak tahu dan tidak menarik mereka punya perhatian, berarti pembeli lewat.
Kitong abang koran itu tau, anak-anak mudah berarti suka baca berita tentang olahraga lebih khususnya (Persipura) itu ka, bapa-bapa pegawai kantor berarti kamu selalu cari berita dari pemerintah provinsi itu ka, mama-mama dia pasar juga tidak bisa kalah, kita juga su tau kalian cari berita tentang pembangunan mama-mama Papua itu ka. Kita abang koran itu kelihat selalu mondar-mandir tapi kita tau kalian mau baca berita apa saja.
Jadi, dari pada panjang lebar. Saya hanya mau bicara begini kalau kita mau punya uang untuk naik taxi, biking fotocopy tugas-tugas, beli gorengan dan beli pulsa berarti kita tidak usah malu-malu jualan.
Menurut pengalaman jadi abang koran selama 2 tahun adalah punya uang ada-ada saja, bikin teman banyak dan lebih dari itu saya dapat ilmu banyak melalui baca berita banyak dengan berbagai macam topik.
Comments
Post a Comment