Kawin Sebelum Kuliah dan Orang Tua Tidak Mampu Bukan Alasan Untuk Putus Sekolah
Photo Meni untuk Balio Wisudah dgn Kawan-Kawan
Senang melihat Meni weyamemakai jubah dan ikut wisuda di Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU) tahun 2020
Menny Weya punya cerita yang Luar biasa tak padang menyerah untuk mencapai mimpi untuk menyelesaikan kuliah di tengah berbagai macam tantangan.
Setelah saya cerita-cerita dengan Meni, munculah pemikiran untuk bagi dia punya jalan cerita bagaimana dia keluar dari kampung lepaskan orang tua, istri tercinta dan menyelesaikan kuliah dengan waktu yang sudah ditentukan.
Alasan saya share cerita ini karena saya sendiri tau dan mengerti sekali kenapa anak-anak Papua kadang-kadang gagal di sekolah. Saya tidak perlu cari tahu faktor-faktor apa membuat kita putus sekolah. Tapi, contoh-contoh tantangan yang dilewati oleh Meni ini perlu mengetahui bersama. Supaya, saat kita mengalami hambatan-hambatan seperti ini, selalu pikir hal ini biasa saja dan sudah pernah dilewati oleh Meni dan kawan-kawan yang lain.
Meni Weya punya cerita ini sangat menginspirasi dan bagus
untuk dengar supaya generasi mudah Papua yang khususnya dari kampung-kampung bisa mengetahui rintangan-rintangan seperti ini selalu ada dalam prosess untuk mencapai impian di dunia pendidikan.
Jadi, ini pace Meni Weya punya jalan cerita.
Meni Weya adalah seorang laki-laki dari sebuah kampung kecil di Guyage Nikime, Distrik Malagai, Kabupaten Lanny Jaya. Meni sudah ketinggalan untuk kuliah karena dia sudah kawin setelah selesai Sekolah menengah Kejuruan (SMK) di Nioga di distrik Jigonikme, Kab Puncak Jaya. Alasan lain adalah dia punya orang tua tidak mampu karena Meni punya banyak saudara/i yang perlu diperhatikan semua. Lebih susah nya lagi itu, dia tidak bisa melepaskan istri dan anaknya lalu pergi jauh di negeri orang.
Walaupun situasi seperti itu, dia adalah seorang berani mengambil keputusan untuk tinggalkan keluarga dan pergi kuliah Manado. Dia memang berjuang dan buktikan yang seperti di lakukan oleh teman-teman lain.
Maka, Meni setelah dapat uang hasil kerja kebun sekitar Rp 7.000 juta, dia langsung menipang pakain dan dia tidak bertolak belakan dan tidak mengharapkan siapa yang akan bantu untuk uang kuliah.
Meni Weya punya TUJUAN utama adalah dia harus tiba di Manado dan daftar kuliah. Dia tidak ambil pakain ganti, cukup pake sepasang pakaian. Meny hanya ambil tas kecil untuk isi Ijazah.
Dari Lanny Jaya, lelaki ini naik pesawat susi air dari lapangan Tiom ke bandara Sentani, Jayapua. Hari itu dia tidak menginap dengan keluarga di Toladan, Sentani. Tapi, dia langsung beli tiket di pintu sebelah untuk menuju ke Manado. Dia pertama kali naik pesawat besar dari bandara Theys Eluay untuk tujuan ke Manado. Dia kelihatan sekali laki-laki yang tidak persiapan baik dari kampung langsung menuju ke kota studi Manado. Dia juga hanya pegan telpon kecil nokia untuk komunikasi dengan abang-abang yang masih kuliah di sana.
Dia tiba di bandara Manado, Meni telpon kaka Senior yang sudah kuliah di Manado yang bernama Yeki P. Kogoya. Pace dia datang jembut Meni di bandara. Lalu, mereka pergi ke rumah. Setelah tidur malam itu, besok harinya Meni dan Yeki pergi daftar kuliah di kampus. Meni pergi daftar secepat mungkin karena dia kuatir mengalami kekurangan uang sebelum daftar kuliah.
Meni ambil jurusan teknologi komputer. Mulai dari semester satu sampai akhir dia belajar dengan serius karena dia mau mengejar ketertinggalan. Selama kuliah, Weya hanya harap uang kuliah dari orang tua dan istri tercinta yang tinggal di kampung Guyage Nikime.
Yang paling menerangkan tentang cerita ini adalah Meni punya motivasi dan itu pun datang dari dia sendiri yaitu dia komitmen untuk selesai kuliah dalam jangka waktu yang ditargetkan, tidak memandang apapun kekurangannya.
Selama Meni di bangku kuliah dari semester satu sampai semester 6, dia memang fokus. Meni berjanji untuk tidak memiliki sosial media seperti facebook, instagram, WA dan lain sebagainya. Pace kayak ketinggalan jaman sekali karena tidak memakai sosial Media. Tetapi, menurut Weya sosial media itu bisa memboros dia punya waktu yang sudah ditargetkan untuk selesai kuliah. Meni katakan, “ kata memboros waktu itu saya tidak menjelaskan apa maksudnya, tapi seperti kalian sudah pernah alami itu sudah saat kita memakai sosial media”
Saat perkuliahan Meni mengalami terlalu banyak tantangan yang bisa membuat dia lepas sekolah.Rintangan besar yang dia alami yaitu issue rasisme dan itu juga dialami oleh semua mahasiswa/i Papua di seluruh Indonesia pada tahun 2019. Mahasiswa/i Papua demonstrasi di setiap mereka punya kota study. Karena banyak kekerasan yang terjadi saat demo, kebanyakan mahasiswa su balik ke Papua tujuan untuk sementara waktu sambil menunggu situasi menurun. Meni dengan teman-teman dan adik-adek pergi balik ke Jayapura, Papua. Tetapi, di Jayapura kondisi sama juga.
Karena mahasiswa/i banyak kumpul di Jayapura, dia juga bisa pikir untuk pergi ke kampung Malagai. Tetapi, Meni hanya di berangkatkan ade-ade ke kampung, lalu dia bertahan di Jayapura dengan untuk berusaha ikut kuliah online dan tetap komunikasi dengan dosen-dosen di Manado.
Setelah isu rasisme itu menurun dia buat rencana pergi ke tempat kuliah. Tetapi, tantangan berikut muncul dan lapangan Theys Eluay tutup karena Virus Korona. Erangnya, Meni tidak patah semangat untuk belajar dan selesai de punya pendidikan di Manado.
Walaupun, virus korona membuat Meni dan keluarganya mengalami kesulitan dalam mereka punya perekonomian untuk mendorong dia untuk selesai kuliah. Tetapi, Meni menghemat uang yang dia miliki, waktu, tenaga dan pikiran tetap fokus untuk selesai kuliah. Dia tetap bangun komunikasi dengan dosen-dosen supaya tidak ketinggalan mata kuliah yang tersisa.
Weya ikuti mata kuliah tersisa melalui kuliah online dari Papua. Kemudian, turun praktek lapangan, susun, maju kripsi melalui online. Berikutnya tibalah waktunya untuk ikut Wisudah. Meni berangkat dari Bumi cenderawasih ke Manado. Setelah mengikuti semua prosess persiapan wisudah, Meni ikut wisudah dengan kawan-kawannya dari Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU) pada tanggal 17 Desember 2020.
Meni menempuh impiahannya dari kampung kecil Guyage Nikime untuk dapat gelar S1. Dengan merasa legah, Meni katakan, “Puji Tuhan! saya setelah melewati banyak rintangan saya bisa dapat gelar ini, nama saya dulu hanya Meni Weya. Tapi, saya bangga punya nama lanjutan yaitu Meni Weya, ST.
Kata singkat:
“Buat ade-ade yang masih berusaha, perlu ingat yaitu hidup ini memang penuh dengan tantangan. Jadi, sesuai dengan pengalaman saya bisa katakan yaitu kalau kita ingin mencapai sesuatu, kita harus menghadapi tantangan itu. Lalu, kita harus fokus pada tujuan sampai dapat sesuatu yang kita inginkan.”
Meni Weya pu cerita ini perlu di baca oleh ade-ade yang lahir besar di kampung Papua yang belum melewati tantangan seperti ini.
Wa, kinaonak.
Selamat baca, Tuhan Yesus Memberkati.
By Eiton KogoyaMissoula 12/16/2020

Comments
Post a Comment